Unresolved 3

Menyumbang Solusi untuk Industri Musik Indonesia

Bertepatan dengan hari musik nasional, 9 Maret, di sebuah toko buku bernama Omuniuum yang terletak di Jalan Ciumbuleuit Bandung, diadakan sebuah diskusi kecil tentang musik. Ada Robin Malau, Yulius Iskandar, Bob Merdeka, Hang Dimas, dan Adhit Android memaparkan beberapa hal yang sedang terjadi di scene musik Indonesia. Acara yang berjudul Unresolved 3 ini memang sengaja dibuat oleh Robin Malau untuk meluruskan hal-hal kecil yang menjadi masalah para musisi.

Well, little things inilah yang kadang kalau nggak diurus dan diluruskan, bisa bikin ribet dan menjadi masalah besar. So, mereka hadir dalam forum diskusi ini dalam rangka ingin bersama mencari solusi yang tepat untuk masalah-msalah yang ada. Yang pertama tampil di forum adalah Yulius Iskandar dari Bottlesmoker. Seperti yang udah kalian kenal, Bottlesmoker ini udah sering banget wara-wiri negara Asia untuk melakukan tur atau konser. Mereka memainkan musik yang nggak biasa, karena nggak mengandalkan vokal, melainkan murni dari alat-alat musik. Yulius memulai cerita dari bagaimana ia membangun jaringan untuk mengenalkan karya duo Bottlesmoker ini. Sosial media dan internetlah yang jadi alat Yulius untuk bisa memajukan Bottlesmoker sampai seperti sekarang ini. Waktu yang dibutuhkan memang nggak sebentar, karena banyak pula hambatan yang harus mereka lalui.

Dari proses menanam tadi itulah, kini Yulius dan Bottlesmoker sebenernya sudah memasuki masa panen. “Tapi nggaklah, saya dan teman-teman Bottlesmoker hanya memakai lahan ini untuk bersenang-senang. Karena kalau nggak dianggap seperti ini, musiknya bisa kacau, pertemanan juga bisa kacau kalau sudah kenal uang. Biarlah lahan untuk mencari uang kami cari di tempat lain,” kata Yulius. Selama ini, Bottlesmoker memang selalu membuat karya yang gratisan. Musik mereka bisa diunduh di mana saja, bahkan di awal kemunculannya, mereka memakai sistem kirim CD untuk penggemarnya yang udah lebih dulu mengirimkan amplop beserta perangkonya. Yeah, sampai sekarang Bottlesmoker memang mengandalkan inovasi dalam berkarya.

Next ada Hang Dimas. Ia sempat bermusik lewat band bernama Hujan, band yang ia dirikan di Malaysia. Dimas bercerita tentang lisensi musik yang sedang ia bangun di Indonesia. Dimas merasa hal ini penting untuk musisi, karena dengan lisensi ini, musisi Indonesia diharapkan bisa lebih sejahtera. Kenapa ia ngotot untuk membereskan sistem lisensi ini, karena beberapa tahun lalu ia pernah menerima cek pembayaran sebesar $S900 per tahun dan RM 30.000 per tahun dari pemerintah Singapura dan Malaysia. Cek tersebut diberikan karena lagu-lagunya sudah diputar di radio, TV, dan sumber lainnya di dua negara tersebut. Kalau sistem lisensi musik di Indonesia pengelolaannya rapi, tentu manfaatnya terasa untuk para musisi.

maicih-royalti-keripik

Berikutnya, Bob Merdeka sharing soal kenapa brand membutuhkan band sebagai endorsee dan sebaliknya. Bob Merdeka yang pernah sukses mempromosikan brand Maicih lewat band Sarasvati di Yogyakarta beberapa tahun lalu juga berkata ada beberapa prinsip yang mesti disepakati oleh endorser dan endorsee. Pertama tentunya soal semangat yang diusung. Maicih dengan kelokalannya, pernah memberikan dukungan pula kepada Bottlesmoker, Efek Rumah Kaca lewat proyek Pandai Besi-nya, Mocca dengan Secret Show-nya. Lalu, Bob pun menceritakan pengalamannya dalam hal endorsement ini, apa saja kendala dan bagaimana mencari solusinya.

Robin Malau sendiri menceritakan bagaimana sulitnya membawa sebuah band untuk bisa ke luar negeri. Ia mengambil contoh kasus band Sigmun yang gagal pergi ke Amerika karena beberapa kendala, di antaranya adalah waktu yang selalu terasa kurang, biaya yang nggak sedikit (meski bisa digalang dengan berbagai cara), dan birokrasi yang selalu rumit. Hal tersebut bisa diatasi dengan satu cara yaitu narasumber yang tepat. Ya, dengan bantuan sang narasumber tersebut, tentu akan ditemukan berbagai kemudahan, meski memang harus melalui prosedur yang sudah ditentukan. Tapi setidaknya, si band pun bisa berangkat ke luar negeri.

Sisi positif yang bisa diambil dari hal ini adalah ternyata potensi band Indonesia itu begitu besar dan banyak mengundang ketertarikan dari pihak luar negeri. Nah salah satu yang masalah yang harus dipecahkan itu adalah bagaimana mengurus segala keperluan band yang diundang manggung di luar negeri. PR yang banyak untuk beberapa pihak terkait, namun satu persatu dicoba diurai dalam #unresolved 3 ini.

Pertanyaan besar selanjutnya adalah, bagaimana nasib band-band yang nggak punya jaringan untuk bisa menembus pasar internasional. Atau pasar lokal dulu aja, deh. Apakah mereka sekarang ada di atas, sukarela membantu yang sedang merangkak? ***

 

emak Administrator
Dibalik Logo Maicih. Sosok emak yang terlihat nyata dengan menghadap ke depan sembari tersenyum hangat. Ada makna yang tersirat dari logo Maicih ini. Maicih seolah berkata bahwa menghadapi dunia tak perlu dengan keangkuhan, tapi dengan senyuman.
Tagged , , , ,

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of