Southeast Asia Plus (Sea+) Triennale 2016 “ENCOUNTER: Art from Different Lands”

image-sea-triennale-2016-2

Galeri Nasional Indonesia–Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kembali menggelar pameran tiga tahunan, Southeast Asia Plus (SEA+) Triennale. Ajang ini merupakan sebuah pameran seni rupa yang bersifat terbatas (mencakup lingkup wilayah regional Asia Tenggara), namun juga sekaligus bersifat inklusif karena membuka kemungkinan untuk melibatkan partisipasi dan interaksi dari perkembangan seni rupa yang lebih luas, yang berasal dari regional wilayah budaya yang lainnya. Pameran ini menghubungkan pertumbuhan seni rupa Indonesia dengan perkembangan seni rupa di wilayah Asia Tenggara seiring perubahan peta seni rupa internasional yang terus berkembang.

Penyelenggaraan SEA+ Triennale juga merupakan sebuah bentuk tanggapan Indonesia terhadap kemajuan perkembangan seni rupa di Asia, khususnya di wilayah Asia Tenggara. Perhelatan ini menjadi sebuah langkah penting dari pemerintah Indonesia untuk meneruskan dan mengembangkan pelbagai bentuk kerja sama yang terjadi di kawasan Asia, terutama Asia Tenggara, yang sebelumnya telah dijalin melalui kegiatan serta rangkaian kesepakatan di bidang ekonomi dan politik. SEA+ Triennale menjadi pelopor pameran seni rupa internasional tiga tahunan yang secara khusus mengangkat para perupa di kawasan Asia Tenggara.

SEA+ Triennale diselenggarakan Galeri Nasional Indonesia pertama kali pada 2013 dengan tema Global Art: Ways Around Asia. Tahun 2016 ini kembali digelar untuk kedua kalinya pada 18 Oktober – 10 November 2016, di Gedung A, B, dan C Galeri Nasional Indonesia. Kali ini, tema yang diangkat berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya, yaitu “ENCOUNTER: Art from Different Lands”.

Tim kurator pameran ini yaitu Rizki A. Zaelani, Asikin Hasan, A. Rikrik Kusmara, dan Badrolhisham M. Tahir menerjemahkan ‘encounter’ (pertemuan) sebagai gagasan untuk menimbang kembali pengalaman hidup yang diraih secara langsung, yaitu semacam hasil yang dipenuhi oleh interaksi dan relasi yang melibatkan kesadaran dan penghayatan tubuh dalam ruang dan waktu kejadian yang bersifat langsung. Situasi pertemuan secara langsung menjamin pengalaman yang bersifat otentik, mengukur sebuah kejadian sebagai keadaan yang melibatkan kesadaran mengenai kehadiran tubuh secara total, menjangkau kemungkinan waktu ke-kini-an sebagai batas-batas yang mungkin bisa diraih oleh pengalaman seseorang. Pertemuan pelbagai ekspresi ‘seni yang berasal dari daratan yang berbeda’ (art from different lands) tak hanya menjelaskan pelbagai situasi asal yang melandasi penciptaan setiap karya-karya yang dipamerkan, tetapi juga menunjukkan ihwal pijakan pandangan, sikap, dan penilaian yang dimiliki oleh masing-masing seniman. Ihwal daratan, di sini, tak hanya mengenai ruang dan waktu pengalaman yang bersifat khas serta otentik yang dihayati masing-masing seniman, tapi juga menjadi semacam jangkauan mengenai dataran (ground) sikap-sikap mereka dalam menghadapi perkembangan situasi masyarakat kontemporer.

Pertemuan tersebut akan diwujudkan dalam sekitar 44 karya seni rupa dua dan tiga dimensional serta intermedia berupa lukisan, patung, object, seni cetak, fotografi, video art, dan seni instalasi. Karya-karya tersebut merupakan hasil karya 44 perupa dari 12 negara. 33 diantaranya perupa Indonesia dan 13 perupa mancanegara yang sebagian besar berasal dari Asia Tenggara. Dari Indonesia, perupa yang berpartisipasi dalam pameran ini berasal dari kota Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Bali, dan Balikpapan. Sedangkan dari luar negeri diantaranya dari negara Malaysia, Singapura, Thailand, Kamboja, Filipina, Myanmar, Laos, Australia, Denmark, Norwegia, dan United Kingdom.

SEA+ Triennale 2016 diungkap Kepala Galeri Nasional Indonesia, Tubagus ‘Andre’ Sukmana, menjadi kesempatan yang berharga bagi para seniman peserta dari Indonesia untuk menampilkan prestasi pencapaian karya yang telah mereka hasilkan bersama-sama dengan para seniman internasional yang telah memiliki reputasi kerja yang tidak diragukan lagi. “Juga untuk menunjukkan artikulasi perhatian masing-masing seniman terhadap pelbagai pengalaman hidup dari tempat serta konteks persoalan yang berbeda namun sekaligus juga mampu terhubungkan satu sama lainnya secara keseluruhan,” tuturnya. Tubagus berharap semoga pameran ini menjadi suguhan kegiatan yang menarik sekaligus mengandung manfaat serta pelajaran yang berharga bagi publik seni rupa di Indonesia, khususnya Jakarta, melalui penampilan pelbagai ekspresi seni rupa yang kuat sekaligus juga bersejarah.

*dsy/GNI

Sumber:

  1. http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/galerinasional/2016/10/15/galeri-nasional-indonesia-pamerkan-karya-perupa-12-negara/
  2. https://www.facebook.com/galnas/

maicih Administrator
Dibalik Logo Maicih. Sosok emak yang terlihat nyata dengan menghadap ke depan sembari tersenyum hangat. Ada makna yang tersirat dari logo Maicih ini. Maicih seolah berkata bahwa menghadapi dunia tak perlu dengan keangkuhan, tapi dengan senyuman.
follow me
Tagged , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: