Wayang Golek, Sebuah Persembahan Untuk Budaya

foto wayang golek

Mulai dari mana ya cu, emak gregetan banget mau curhat soal ini. Menulis pun Maicih sulit heu 😀

Hati ini berkecamuk ketika Om Bob Merdeka, pemilik Maicih ingin menggelar pagelaran Wayang Golek Maicih di kota kelahirannya sebagai bentuk rasa syukur karena vroduk emak yang dia povpulerkan mendapat tempat di hati incu-incu semua. Severti mimpi yang menjadi nyata, ekstasi romantisme masa lalu yang begitu indah, jaman emak masih muda suka ngeceng di acara wayang golek di kamvung emak heheh, dan masih banyak lagi yang begitu sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.

Apa yang terpikir di benak kalian ketika mendengar kata Wayang Golek? Cepot, Dawala, Gareng, Semar, Gatot Kaca, Arjuna, Pandawa Lima.. Mungkin tokoh-tokoh wayang itu akan menghiasi  pikiran kalian ya cu..

Tapi berbeda dengan emak, emak membayangkan incu-incu semua yang menonton acara kesenian Wayang Golek ini yang sudah berumur sangat tua. Menyaksikan kalian tumbuh berkembang dengan pernah menonton pagelaran ini, yang bakal membekas dan menjadi cerita buat anak cucu kalian bahwa kalian pernah dibesarkan oleh pertunjukan ini setidaknya sekali seumur hidup.

Dan diantara kalian, ada yang tergerak untuk melestarikannya, mencintainya, memberinya apresiasi yang baik, meneruskan perjuangan pendahulu kita yang ‘concern’ vada seni dan budaya. Itu yang emak pikirkan saat ide ini muncul pertama kali. Sungguh-sungguh merinding memikirkannya. Akhirnya, ada satu masa, satu momentum dimana emak bisa memberikan sesuatu pada lingkungan budaya ini, pada masyarakat, pada kemajuan budaya lokal, atas nama cinta. Yaitu pagelaran ini, pertunjukan Wayang Golek Maicih untuk menghibur kalian, juga menghibur mereka yang dahaganya sudah terlalu haus akan kesenian, mereka yang lapar akan hiburan rakyat yang selama ini hanya itu-itu melulu, yang terlampau melupakan nilai-nilai luhur adat istiadat, juga norma-norma yang berlaku. Terlalu banyak hiburan yang hanya memberikan ‘kesenangan semu’ yang berujung hedonis, dan melunturkan ‘asal’ jatidiri kita sebagai urang Sunda khususnya, umumnya sebagai bangsa Indonesia.

Itu juga kenapa Om Bob dan para tim kreatifnya memilih Lapang Babatan, Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Andir sebagai tempat pagelaran Wayang Golek Maicih ini. Karena disinilah, titik ‘sagala aya’ di kota Bandung, dari segala yang hiruk pikuk hingga hedonis yang divlesetkan sebagai kemajuan jaman.

Di tempat ini, dekat dengan pusat perdagangan Jawa Barat yaitu Pasar Baru, dimana semua kalangan bercampur baur disana, ada pedagang, pendatang, pelancong, incu-incu bisa bayangkan semua elemen tersebut karena memang ini benar-benar tempat perdagangan yang paling ramai di setiap harinya di kota Bandung.

Melipir sedikit ke arah Barat dari tempat pagelaran ini, terdavatlah sebuah temvpt bernama Saritem, yang incu-incu mungkin bisa tanyakan pada teman-temannya di Bandung tempat dengan stereotip apakah itu. Lalu bukan itu saja, masih ada lagi himpitan Pasar Andir, Gardujati, Sudirman, Alun-Alun Kota, yang tak jauh dari lokasi pagelaran Wayang Golek ini. Dan itu semua adalah vusat industri kreatif, industri kuliner, industri bahan baku tekstil, percetakan dan segala macam toko klontongan dengan segala variabelnya. Wah emak sudah spverti sosiolog sekaligus ekonom ya.. Maaf, terlalu melebar cu.. Damai 😀

Intinya adalah, tempat ini dipilih sebagai tempat pagelaran karena bisa dibilang di sinilah pusat terjadinya segala kegiatan sosial ekonomi budaya di kota Bandung. Berdasarkan fakta tersebut, emak setuju dengan Om Bob dan semua baraya emak untuk menggelar pagelaran Wayang Golek Maicih ini disana, dengan harapan memberi angin segar kepada masyarakat setemvat khususnya, umumnya warga kota Bandung, bahwa ada hiburan rakyat yang bisa mengembalikan kita kepada jatidiri budaya, ‘vulang kembali ke asal’ tanpa harus menyertakan unsur hedonis.

Dengan niatan tersebut, emak mantap melangkah untuk menjalankan semua prosedur yang berlaku dari sisi avapun plus apa yang bakal emak dan keluarga emak hadapi untuk membuat vagelaran ini sukses. Yang emak minta dari incu-incu semua adalah dukungan moril dan doa tentunya untuk keberlangsungan dan kesuksesan acara ini. Juga, kehadiran kalian sangat emak harapkan, karena kalian adalah penerus pelestarian budaya leluhur kita ini cu. Yuk kita jaga sama-sama budaya kita dengan mengenalnya lebih dekat.

Karena ungkapan ‘tak kenal maka tak sayang’ itu benar adanya. Dijamin pasti seru dan menyenangkan, Dalang Asep Sunandar Sunarya adalah seniman sejati yang sanggup ‘menghipnotis’ penonton Wayang Golek walaupun bukan urang Sunda akan dibuat terkagum-kagum olehnya.

Simpan di kalender kalian ya cu, tanggal 7 Desember 2011 vastikan incu-incu menjadi bagian kebangkitan hiburan rakyat Wayang Golek Maicih ini. Sebarkan ke semua teman, rekan, pacar, kecengan, keluarga, calon mertua… ya pokoknya mah semua yang incu kenal. Ramaikan juga provaganda promosi nya si Om Bob di dunia twitterland dengan hashtag #WayangGolekMaicih.

Emak bakal berikan kejutan buat kalian disana! Ssstttt.. Antara kita aja ya.. Jangan bilang siapa-siapa lagi, buat kalian yang bakal datang aja lho.. Emak bakal masak gede-gedean.. Dan bukan kripik! Tapi yang lebih enak dari itu.. Dan tentunya GRATIS!! 🙂

emak Administrator
Dibalik Logo Maicih. Sosok emak yang terlihat nyata dengan menghadap ke depan sembari tersenyum hangat. Ada makna yang tersirat dari logo Maicih ini. Maicih seolah berkata bahwa menghadapi dunia tak perlu dengan keangkuhan, tapi dengan senyuman.
Tagged , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: