Pemilik Merek Maicih Seharusnya Mendapatkan Perlindungan Hukum

Dalam menjalankan pasar, pelaku bisnis dituntut untuk bisa terus mengembangkan diri untuk bisa menguasai pangsa pasar. Persaingan dalam pasar tidak hanya berorientasi pada produk, promosi ataupun konsumen saja, tetapi juga ke persaingan pasar itu sendiri. Akan tetapi, kondisi di pasar justru menimbulkan pelanggaran etika bisnis. Munculnya kasus pelanggaran etika sering muncul diantaranya, dalam hal mendapatkan ide usaha, memperoleh modal, melaksanakan proses produksi, pemasaran produk, penentuan harga, pembagian keuntungan, pembayaran pajak, penetapan mutu, pembajakan tenaga profesional, blow-up proposal proyek, penguasaan pangsa pasar dalam satu tangan, persengkokolan, mengumumkan propektis yang tidak benar, penekanan upah buruh di bawah standar atau upah minimum yang disyaratkan, insider trading dan lain-lain. Pelanggaran etika bisnis tersebut terjadi karena dipicu oleh faktor keuntungan.

Merek merupakan sebuah simbol pembeda antara sebuah produk atau jasa. Sangat banyak perusahaan atau bahkan perorangan yang sudah sangat sukses dengan memiliki sebuah produk atau jasa dengan merek yang sangat terkenal. Bahkan produk-produk tertentu akan berharga dua kalilipat apabila dilabeli dengan merek yang sudah terkenal.

Di Indonesia sendiri, penggunaan merek sebagai senjata utama dalam penjualan sudah mulai tumbuh dan berkembang. Seperti merek keripik pedas Maicih dari bandung yang sempat laris di pasaran dengan harganya selangit apabila dibandingkan dengan kripik-kripik konvensional. Kripik ini pertama kali dipopulerkan dan dipasarkan oleh Dimas Ginanjar, Arie Kurniadi , dan Reza Nurhilman yang merupakan saudara kandung. Entah karena alasan apa akhirnya tim mereka pecah dan terbagi menjadi dua yaitu Maicih versi Dimas Ginanjar atau sering dipanggil Bob merdeka dan Maicih versi Reza Nurhilman.

Merek Maicih
Merek Maicih

Kedua Versi Maicih tersebut sama-sama sukses dipasaran dengan strategi marketing masing-masing. Tetapi ada hal yang sangat cerdas di lakukan oleh Dimas Ginanjar “Bob” Merdeka. Pada tahun 2011, Dimas telah mendaftarkan merek Kripik Maicih ke Dirjen HKI dan pada tahun 2013 merek tersebut teregistrasi atas nama Dimas Ginanjar Merdeka. Tidak tanggung-tanggung, dari hasil penelusuran tim Startup HKI, setidaknya ada 8 kelas barang dan jasa yang didaftarkan dengan merek Maicih.

Selain Kripik Maicih, Merek Maicih juga telah teregistrasi untuk barang atau Jasa seperti Taman hiburan (rekreasi), jasa penyelenggaraan pertunjukan, mug, poci, toples, sandal, sepatu, tutup kepala (topi) serta toko online dengan nama Maicih.com. Sepertinya Dimas Ginanjar “Bob” Merdeka benar-benar ingin mengembangkan merek Maicih menjadi sesuatu yang lebih besar dari sekedar keripik pedas. Dan dengan Registrasi merek Maicih olehDimas Ginanjar “Bob” Merdeka tersebut, tentu saja seharusnya Reza Nurhilman sudah tidak memiliki hak untuk menjual produk kripik pedas dengan merek Maicih.

Akal adalah pembeda antara manusia dengan mahluk Tuhan yang lainnya, Tuhan memberikan Akal tak lain adalah untuk berfikir, buah hasil pemikiran manusia dapat menghasilkan sebuah karya dalam berbagai bidang, seperti musik, barang, tulisan dan yang lainnya. Karya tersebut lahir dari sebuah pemikiran mendalam tentang sesuatu, jadi untuk melahirkan sebuah karya yang baik dan fenomenal tentunya memerlukan kerja keras dan ketekunan, dengan demikian jika sebuah karya diakui oleh orang yang bukan melahirkan karya tersebuat, maka hal tersebut adalah tindakan yang tidak terpuji. Mengingat pentingnya melindungi karya seseorang, negara kemudian menjamin perlindungan terhadap karya manusia, yang kemudian disebut dengan Hak Kekayaan Intelektual yang tertuang dalam UU No. 14 tahun 2001 tentang Paten, dan UU No. 15 tahun 2001 tentang Merek dan masih banyak lagi hak tentang Kekayaan Intelektual .

Hak Kekayaan Intelektual yang disingkat dengan HAKI meliputi dua hal, yaitu perlindungan terhadap Benda tak berwujud seperti merek dagang dan hak paten, serta perlindungan terhadap benda berwujud, seperti teknologi, tulisan dll. HAKI merupakan suatu bentuk tindakan preventif untuk melindungi pemilik karya dari orang-orang yang dengan sengaja memanfaatkan karya tersebut untuk kepentingan pribadi yang tentunya dapat merugikan pemilik karya, sedangkan tindakan setelahnya adalah tindakan represif, merupakan tindakan yang diberikan kepada orang yang melakukan pelanggaran yaitu orang yang melakukan pembajakan terhadap karya yang telah memiliki HAKI, biasanya berupa hukuman pidana atau ganti rugi.

Sumber:

  1. http://catatanindah96.blogspot.co.id/2016/07/perlindungan-hukum-terhadap-pemilik.html
  2. http://startuphki.com/pentingnya-melindungi-merek-bagi-ukm-studi-kasus-merek-maicih/
  3. http://desyatikah.blogspot.co.id/2017/04/pelanggaran-etika-bisnis-dalam-hak.html

maicih Administrator
Dibalik Logo Maicih. Sosok emak yang terlihat nyata dengan menghadap ke depan sembari tersenyum hangat. Ada makna yang tersirat dari logo Maicih ini. Maicih seolah berkata bahwa menghadapi dunia tak perlu dengan keangkuhan, tapi dengan senyuman.
follow me
Tagged , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of