Agar Startup Tidak Gagal Waspadai Hal Ini

– Photo by Pim Chu on Unsplash

Mengapa bisnis startup di Indonesia bisa gagal? Kita selalu bicara tentang shifting economic, beralihnya demand masyarakat Indonesia dari offline menjadi online, tapi pagi ini saya membaca lini masa tentang beberapa bisnis startup di Indonesia yang gagal juga, referensi

Shifting Economic. Bukan hanya di Indonesia, tapi dunia dimana shifting economic telah berlaku. Tutupnya gerai penjualan fisik (offline) pada 2017 ini, membuktikan bahwa dunia telah berbeda, Ekonomi Indonesia telah berbeda, itu fakta.

Jadi kalau masih ada yang menyalahkan tentang daya beli? Hey, penjualan online meningkat sangat pesat, JNE dan Tiki kebanjiran order. Bahkan sponsor Liga Utama Sepakbola pun beberapa didominasi layanan online: Gojek dan Traveloka.

Tapi kenapa potensi startup gagal masih ada juga?

1. Tidak Menyasar Pada Apa yang Masyarakat Butuhkan.
Belajar dari referensi diatas, hal utama yang menjadi penyebab kegagalan bisnis startup di Indonesia yaitu fokus pada hal yang menarik untuk diselesaikan, bukan fokus pada apa yang dibutuhkan masyarakat.

Contohnya Gojek. Gojek menyelesaikan apa yang masyarakat butuhkan, yaitu transportasi yang mudah, murah, cepat dan aman. Gojek membuat strategi tepat dengan banyaknya keluhan masyarakat tentang kemacetan dan ojek konvensional yang suka nembak harga, bau jaket yang sebulan gak dicuci, bau rokok dan sifat tukang ojek pengkolan yang kadang suka ogah-ogahan, ujung-ujungnya mahalin harga.

Itu satu contoh. Banyak sekali startup yang membuat bisnis aneh-aneh, misal Zen99 yang menyediakan konten mengelola keuangan, pajak serta asuransi, padahal hal-hal tersebut bisa di selesaikan sendiri tanpa aplikasi, bahkan user lebih ingin terlibat detail di hal-hal keuangan, apalagi asuransi. Masyarakat gak butuh-butuh amat aplikasi model gini.

Baca Sedapnya Peluang Bisnis Keripik Singkong Pedas

2. Tidak Adaptable.
Contoh Go-Food. Kenapa Go-Food sukses, bahkan menjadi terbesar kedua di dunia untuk layanan pesan antar makanan? Simple, mudah, dan tidak terbatas minimum order. Hal terakhir yang membuat Food Panda harus gulung tikar.

Pertama, masyarakat Indonesia hobinya beli satuan/sedikit, kalau untuk acara besar ya biasanya masak sendiri atau katering sekalian, bukan begitu? Jadi paling males deh tuh yang namanya beli ada minimum order. Jadi harus bisa adaptasi dengan kultur user.

Kedua, masyarakat Indonesia gak terlalu peduli yang namanya packing rapi, steril dsb. Orang Indon itu hobinya “mbadok”, suka makan pakai tangan, suka sambel yang belepotan apalagi pakai pete, apalagi kalau menu lauknya banyak, contoh: Warung Padang . Jadi variasi makanan adalah koentji. Apalagi ditambah promo dan free delivery.

Kalau cuma mengandalkan makanan yang kekinian saja dan merasa diri “Wah”, dipastikan gulung tikar.

Ada juga contoh dari Paraplou, yang menjual produk premium. Padahal mayoritas pengguna aplikasi online adalah kaum milenial yang masih menyesuaikan kantong. Kalau ada produk sejenis dengan harga yang lebih murah, kenapa enggak?

Baca 6 Tips Mendasar Namun Penting Untuk Pemillik Bisnis Makanan

3. Tidak Fokus ke Satu Tujuan.
Contoh untuk konsep traveling, ini bersaing, karena antara Traveloka dan Tiket.com nyaris sama. Dari sisi kemudahan pesan, layanan interaktif dan metode pembayaran yang dinamis. Saya sendiri pesan via dua aplikasi itu hanya butuh 7 menit saja. Yang lama ya milih hotelnya.

Lalu kenapa Valadoo bisa gulung tikar?

Saya pernah menggunakan Valadoo, dan terus terang ketika pertama membuka webnya banyak penawaran liburan, paket A, B dll. Menarik sih, tapi bukan itu tujuan saya buka Valadoo. Saya hanya ingin pesan tiket dan hotel, gak pake kesana-sini. Ribet!

Dari sini saya lihat Valadoo tidak fokus. Akhirnya saya kembali buka Traveloka, Tiket.com atau langsung ke Agoda untuk nyari hotel. Toh konsep liburan bisa kita create sendiri, gak perlu orang lain.

Baca 9 Jajanan Khas Kota Bandung yang Melegenda

4. Sibuk Membesarkan Bisnis Daripada Sustainability.
Contoh dari sini bisa juga Valadoo atau Rdio. Dimana mereka sibuk membesarkan diri dan mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya, tapi lupa me-maintain kelangsungan hidupnya.

Saat ini yang agak terlihat adalah di Lazada, Tokopedia atau Bukalapak. Sibuk ekspansi tapi didalam ternyata banyak komplain dari customer (termasuk beberapa kawan saya) tentang waktu pengiriman atau produk yang tak sesuai pesanan.

Problem itu saat ini sedang di tangkap oleh JD.id dengan promo anti barang palsu yang lebih meyakinkan plus garansi uang kembali. Hati-hati.

Belanja sekarang, Gratis Ongkir hingga Rp40.000 ke seluruh Indonesia!
Belanja sekarang, Gratis Ongkir hingga Rp40.000 ke seluruh Indonesia! Cek https://www.tokopedia.com/maicihofficial

5. Problem Pendanaan dan Pertarungan Bisnis.
Hal terakhir penyebab kegagalan bisnis startup di Indonesia adalah pendanaan dan bisnis. Contohnya adalah Sidecar, di lansir dari Techinasia, CEO Sidecar Sunil Paul, menulis dalam sebuah blog: Kami tak mampu bersaing dengan Uber, perusahaan yang memperoleh pendanaan terbesar dalam sejarah dibandingkan startup lainnya, dan dikenal akan sikapnya yang anti-kompetitif. Sebetulnya kami merasa bahwa kami lebih inovatif dibanding Uber, namun kami gagal bersaing di pasaran.

Ataupun juga beberapa contoh startup yang harus gulung tikar karena terlalu tergantung pada investor, terlalu manut pada investor karena pemegang saham mayoritas mutlak adalah investor, sehingga bisa jadi, tidak sesuai visi misi lagi.

Sumber:http://ryokusumo.com/2017/12/04/mengapa-bisnis-startup-di-indonesia-bisa-gagal/

maicih Administrator
Dibalik Logo Maicih. Sosok emak yang terlihat nyata dengan menghadap ke depan sembari tersenyum hangat. Ada makna yang tersirat dari logo Maicih ini. Maicih seolah berkata bahwa menghadapi dunia tak perlu dengan keangkuhan, tapi dengan senyuman.
follow me
Tagged , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: